Rabu, 01 Mei 2013

Curitiba disebut sebagai ibukota yang ekologis dengan jaringan jalan yang memiliki 28 taman dan area penuh pepohonan. Di Kota ini, penduduknya secara sukarela menanam 1,5 juta pohon sepanjang jalan-jalan perkotaan. Para pengembang atau pembangun mendapatkan potongan pajak jika proyek mereka melibatkan ruang hijau. Air hujan dialihkan ke dalam danau baru di dalam taman untuk mengatasi masalah banjir yang berbahaya. 
Program “green exchange” memfokuskan pada inklusi sosial yang menguntungkan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Keluarga berpendapatan rendah di kota 'gubuk' yang miskin yang tidak terjangkau oleh truk pengangkut sampah membawa kantong-kantong sampah mereka ke pusat lingkungan perumahan sekitarnya dimana mereka bisa menukarnya dengan tiket bis dan bahan makanan. Program ini juga berlaku bagi anak-anak dimana mereka bisa menukar sampah yang dapat didaur ulang dengan kebutuhan/perlengkapan sekolah, coklat, mainan dan tiket pertunjukan. Program ini menghasilkan kota yang sedikit sampah dan penyakit.
 
Pertumbuhan kota curitiba menjadi semakin cepat setelah tahun 1950 karena menjadi wilayah hubungan perdagangan  dan jasa. Pertumbuhan kota yang tidak terkendali mendorong perencanaan kota yang ditekankan pada transportasi dan penghijauan lingkungan. Perencanaan kota pertama kali di curitiba hanya pada pengembangan jalan-jalan dan fasilitas kota seperti pusat reakreasi dan industry. Namun hingga tahun 1970, Curitiba masih mengalami permasalahan ancaman ledakan penduduk yang menjadikan kota ini mengalami fenomena kemacetan dan banjir.   
 
Sebagaimana kota-kota besar lain diseluruh dunia, Kota curitiba juga mengalami berbagai permasalahan urban,antara lain pertambahan populasi dan sampah. Jumlah penduduk Kota Curitiba yang besar menghasilkan volume sampah yang besar pula. Namun demikian kota curitiba tidak terpuruk dalam permaslahan sampah. Pada tahun 1989 kota curitiba memulai inovasi pengolahan sampah yang ekonomis dan berwawasan lingkungan yang diberi tajuk "Gerbage that is not Gerbage" (sampah yang bukan sampah). Inovasi pengolahan sampah tersebut dapat mendaur ulang 70% sampah kota curitiba dan 90% penduduknya berpartisipasi dalam program daur ulang sampah             
 Program  Garbage not garbage  telah mampu mendaur ulang 70 % sampah kota oleh warga sendiri. Seminggu sekali, sebuah truk mengumpulkan kertas, metal, plastik, dan kaca yang telah disortir di masing-masing rumah tangga. Daur ulang kertas saja sebanding dengan terselamatkannya 1200 pohon satu hari. Selain itu, sebagaimana benefit lingkungan, pendapatan hasil program lingkungan disalurkan pada program sosial, termasuk menggaji para tuna wisma dan alkoholik di tempat persortiran sampah (ICLEI  2005). 

Program pendukung yang tak kalah penting adalah upaya pemerintah dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik, transparansi dan partisipasi masyarakat. Sistem transportasi, misalnya, telah mengalami berkali-kali perbaikan sistem dengan adanya berbagai  complain, masukan, dan partisipasi dari warga sampai penerapan busway sekarang yang sudah mapan.